Kuliner Cirebon: 14 Places I Ate at in 3 Days, 2 Nights
The last two times we met in Bandung, Ci Titin extended an invitation to visit and eat a bunch of food together (plus coffee, of course) in Cirebon. I can never resist offers of food or drink; also, though not exactly a good habit to have in Indonesia, I take invitations at face value.
In October, my plans came together quite nicely: I wanted to visit my grandmother in Pekalongan, but the direct train there (Harina, the most affordable, an economy class ticket) cost Rp. 275.000, and the trip would’ve taken 5 hours and 40 minutes, according to the KAI app. A spark of genius descended upon me while planning. I could instead take a travel to Cirebon, which would cost Rp. 90.000 to Rp. 135.000 and just two hours of my time. Then I could continue the trip after a night or two, taking one of the many executive trains from Cirebon to Pekalongan after eating and drinking my fill. The executive class train ticket would cost just Rp. 120.000 to Rp. 150.000 and I’d arrive in less than two hours. In total, splitting the trip would consume, theoretically, less time, less energy, less money.
Right after booking the travel to Cirebon, I received another invite, and it was one I couldn’t resist. Damn! A weekend popup with my new neighbour and another new friend, seving mantou and fun sides and coffee. But accepting the job meant, at worst, cancelling the Pekalongan leg of my trip, or, best, pushing my reunion with my grandma back to Monday.
I ended up choosing the latter. The ticket to Cirebon was booked and Ci Titin had already graciously arranged accommodation and I needed to get out of the house and see the world. I arrived in Cirebon on Wednesday around 11 AM and left on Friday at 3 PM. The list that follows contains the fourteen different places we visited over the span of 3 days and 2 nights, in chronological order, with addresses, what I/we ordered, and a little background on each dish. I tried to also list the prices, though honestly I didn’t keep track of receipts (ugh, I should have).
Note: My maternal great-grandmother and her family is apparently from Cirebon, though the ancestral trail has long gone cold. I’m no expert on Indonesian food and most of these notes are desk research. If I’ve missed some local favourites, send me a message at flourpekoe@gmail.com and tell me where I should go next time.
Another note: I am not really a picky eater. I love eating. Sampe Ci Titin ketawain, katanya apapun dikasih aku bakal tetap senyum lebar dan bilang “wah, aku suka banget, ini enak banget!” When I was a kid I was the “trash bin”, so to speak — I’d be in charge of disposing, AKA eating, any leftovers, so as long as it doesn’t taste weird I’ll usually it eat all with gratitude. I don’t really enjoy offal though.
Final note: Drinks and coffee will be in another post.
1. Empal Gentong Haji Apud
Jl. Raya Kedawung No. 24, Tengah Tani Ordered: empal gentong + empal asem Total spent: ???
Empal gentong katanya lahir di Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, daerah yang dulu terkenal sebagai tempat produsen daging. Gentong yang digunakan terbuat dari tanah liat dengan warna khas terra cotta. Di dalam gentong besar ini, daging dan jeroan sapi dimasak perlahan di atas api kayu asem. Tanah liat menyimpan panas dengan rata, dan konon katanya asap kayu asem ikut memberi aroma khas pada kuah kuning bersantannya.
Empal asem adalah saudaranya yang lebih ringan, dengan kuah bening tanpa santan dan rasa asam segar dari belimbing wuluh dan tomat. Warung-warung empal berjajar sepanjang jalur Pantura, dan hidangan ini sering menemani orang yang melintas antara Jakarta dan Jawa Tengah.
Personal notes: I enjoyed both the empal gentong and the empal asem, but I preferred the empal asem slightly more because I love sour soups in general. The empal gentong from Haji Apud had a rich broth more savoury and “heavier” spice-wise than opor kuning.
2. Rumah Makan Swike Chandra
Jl. Petratean No. 58, Pekalipan Ordered: swike goreng saus tomat + swike tepung, nasi Total spent: 129K
Swike adalah olahan kodok dari dapur peranakan Tionghoa di pesisir utara Jawa, dan sering dikaitkan dengan Purwodadi di Jawa Tengah. Namanya berasal dari dialek Hokkien "sui ke", yang berarti “ayam air“, sebutan halus untuk kodok yang dagingnya memang lembut seperti ayam atau ikan. Versi klasiknya adalah swike kuah tauco, sementara rumah makan seperti Swike Chandra juga menyajikan versi goreng, berbalut tepung, atau bersaus tomat.
Personal notes: Lucunya, Ci Titin punya nomor semua tempat makan yang sering dikunjungi, dan dia hampir selalu pesan dulu via telpon agar makanannya sudah siap pas sampai. Karena resto kecil ini menjadi tempat langganan Ci Titin selama bertahun-tahun, tentu Cici pesan dulu. Menurutku swike-nya gede-gede dan empuk banget, tanpa bau amis. Saus tomatnya gurih dan manis, berkesan dan overall jauh melebihi ekspektasiku. Maafkan aku — swike kuah tauco rasanya tauco banget, WKWKWK. Tapi semuanya sangat aku nikmati.
3. Nasi Jamblang Ibu Nur
Jl. Cangkring 2 No. 34, Kota Cirebon Ordered: nasi, sambel, sayur tahu, telor dadar, cemplung kelapa udang, daging sapi, jengkol, sate kentang, sate udang Total spent: 67.5k berdua
Nasi jamblang ternyata nggak ada hubungan sama pohon ataupun buah jamblang, melainkan mengambil nama dari Desa Jamblang di sebelah barat Kota Cirebon. Hidangan ini katanya bermula sebagai bekal para pekerja di masa kolonial, ketika warga setempat menyediakan nasi bungkus murah yang tahan lama. Makanan dibungkus daun jati, yang pori-porinya membantu menjaga makanan agar tidak cepat basi.
Di tempat nasi jamblang service-nya sistem prasmanan, jadi pembeli akan mengambil sendiri lauk dari deretan meja panjang dan bayar sama kasir di ujung.
Personal notes: Initially I wanted to try the balakutak hideung (basically cumi/sotong kuah hitam) but when we visited it was already sold out. This seems stupid to say but I never realised until that night how much Javanese cuisine is shaped by coconuts and soybeans. It felt like that “by Marc Jacobs for Marc Jacobs on behalf of Mac Jacobs” meme: the same base ingredient combined in numerous forms.
My favourite was the cemplung kelapa udang, which was similar to a perkedel kentang but made out of shredded coconuts. Much of the options were sweet rather than salty or savoury, which I am still getting used to.
4. Kue Tapel Ibu Rema
Gg. Alas Demang 1, off Jl. Pagongan Ordered: 3 kue tapel (Rp8,000 each)
Kue tapel adalah jajanan tradisional pesisir Cirebon yang terbuat dari adonan tepung beras dan kelapa parut. Adonannya dituang tipis di atas wajan kecil yang dipanaskan dengan tungku kayu, lalu diberi isian manis dan dilipat selagi hangat, sehingga pinggirnya renyah dan bagian dalamnya lembut.
Personal notes: So simple but so delicious. I loved the interplay of soft/mushy banana on the inside and crisp edges.
5. Nasi Lengko H.M. Sadi
Gg. Alas Demang 1, Pekalangan Ordered: 1 nasi lengko + 10 sate kambing Total spent: ???
Nasi lengko adalah sarapan rakyat Cirebon yang lahir dari bahan-bahan paling sederhana: nasi putih, tahu dan tempe goreng, tauge rebus, timun, dan kucai, disiram bumbu kacang dan kecap manis, lalu ditaburi bawang goreng. Hampir semua isinya nabati dan murah, sehingga sejak lama nasi lengko jadi makanan pekerja, pedagang pasar, dan anak sekolah. Di Cirebon, nasi lengko punya pasangan setia, yaitu sate kambing. Kombinasi ini bisa ditemui di banyak warung lengko lama, termasuk H.M. Sadi.
Personal notes: I preferred this nasi lengko out of the two I tried on my trip! I felt the plate was more balanced and “fresh”, not in terms of ingredients but more the composition. I was able to enjoy the timun-tauge-bawang goreng-kucai brightness and crunch rather than feeling overwhelmed by saus kacang. The sate was also large and tasty. I’m not sure if it was because I was starving but I enjoyed the sate a lot.
6. Docang Ibu Kapsah
Jl. Siliwangi, near Stasiun Cirebon (closed Mondays, breakfast only) Ordered: 1 porsi docang Total habis: 12K 1 porsi
Docang adalah salah satu sarapan tertua di Cirebon, berisi potongan lontong, daun singkong, tauge, dan kelapa parut yang disiram kuah dage dari oncom, lalu disantap dengan kerupuk. Rasanya gurih dengan sedikit sentuhan fermentasi, dan teksturnya lembut.
Cerita rakyat Cirebon mengaitkan docang dengan masa Wali Songo. Dalam salah satu versinya, hidangan ini disiapkan untuk mencelakai para wali yang berkumpul di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, namun justru disantap dengan lahap dan menjadi kegemaran.
Personal notes: The other things I tried in Cirebon were at least somewhat familiar to me, but damn, I have never heard of “docang” before. I felt like I was saying the name of some Kpop actor, LOL. When first trying docang I felt that the overall taste and texture was somehow similar to lontong cap go meh, though theoretically healthier due to the daun singkong. I love lontong cap go meh so I actually really enjoyed docang and would love to eat it again. The broth was less thick than traditional santan-based broths, but the COCONUT affect remained due to the kelapa parut.
7. Tahu Gejrot Mang Wardi
Jl. Pecinan No. 2, by Pasar Kanoman Ordered: tahu gejrot 1 bungkus Tahu gejrot adalah jajanan khas Cirebon yang sederhana dan sangat akrab. Tahu pong goreng yang berongga dipotong kecil, lalu disiram kuah encer dari gula merah dan cuka. Bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit diulek langsung di cobek tanah kecil tempat tahu disajikan, sehingga pedas tiap porsi bisa diatur.
Konon nama "gejrot" meniru bunyi kuah saat dituang dari botol. Dulu tahu gejrot banyak dijajakan dengan pikulan keliling, dan kini mudah ditemui di pinggir jalan.
Personal notes: I don’t have much to say about this tahu gejrot, other than that it was amazing and I love bawang.
8. Nasi Langgi Mba Santi
Jl. Bahagia No. 67, Panjunan Ordered: 1 porsi nasi langgi Total spent: 18K (kisaran)
Nasi langgi adalah sarapan khas Pecinan Cirebon, berupa nasi gurih yang biasanya disajikan dengan aneka lauk kecil seperti bihun goreng, serundeng, tempe kering, dan telur. Hidangan ini mencerminkan perjumpaan dapur Tionghoa dan Jawa di pesisir, dengan rasa gurih-manis yang akrab dan porsi yang pas untuk memulai hari.
Personal notes: The more I eat “mindfully” the more I find I like lalapan and dedaunan and interesting textures in my meals. This nasi langgi was a massive portion filled with small, fried-ish tempe cubes, udang kecil, serundeng, kelapa parut, and kemangi. I loved this meal a lot and it was apparently much cheaper than the next nasi langgi below.
9. Gang Macan (Kopi, Roti, Langgi)
Jl. Lemahwungkuk No. 8 Ordered: 1 porsi nasi langgi Total spent: 40K (kisaran)
Gang Macan adalah kafe di kawasan Pecinan dekat Pasar Kanoman yang menyajikan nasi langgi berdampingan dengan kopi dan roti.
Personal notes: The nasi langgi from Gang Macan was similarly very enjoyable, but offered far less textural contrast and was also over twice as expensive as Mba Santi. It contained a piece of semur daging, as well as abon and egg, plus daun kemangi.
10. Sate Kambing Muda 234
Jl. Jend. Sudirman No. 234 (KM 7), Ciperna Ordered: 20 tusuk sate campur + 2 nasi, 2 es teh tawar Total spent: 129K
Jalur Pantura dari Cirebon hingga Tegal dan Brebes punya budaya sate kambing muda yang kuat. Kambing yang dipotong masih berusia muda, sehingga dagingnya empuk dan aroma prengusnya ringan. Di Tegal, tradisi ini bahkan punya sebutan sendiri, batibul, singkatan dari "bawah tiga bulan".
Sate kambing biasanya disajikan dengan kecap manis, irisan bawang merah, tomat, dan cabai rawit, ditemani nasi hangat — bukan pakai saus kacang. Pesanan sate campur berarti satu porsi berisi potongan daging dan bagian yang lebih berlemak.
Personal notes: Kalau kamu lagi BM sate kambing, datang aja lah ke Cirebon. Sate-nya gede tapi harga untuk 20 tusuk affordable banget. Sampai sekarang terngiang-ngiang lembutnya daging dan gajihnya.
11. Jagung Bakar Pagongan
Jl. Parujakan No. 3, Pekalangan Ordered: 2 porsi jasuke Total spent: 30K
Jasuke, singkatan dari jagung, susu, keju, adalah jajanan manis-gurih berupa pipilan jagung manis rebus yang disiram susu kental manis dan ditaburi keju parut, lalu disajikan dalam gelas plastik. Jajanan ini akrab di depan sekolah, pasar malam, dan pusat keramaian di seluruh Indonesia, dan sering jadi perkenalan pertama anak-anak dengan camilan jalanan.
Personal notes: Lucu melihat merek Omela di tempat yang bukan kompetisi barista, WKWKWK. Jasukenya enak tapi kami terpaksa takeaway karena bocilku malam itu sudah rewel banget. Tidak ada catatan apa-apa, emang enak dan nikmat tanpa rasa giung.
12. Mie Koclok Gombang Pak Rasita
Jl. Bahagia No. 2, Gombang, Plumbon (near Plumbon toll exit) Ordered: 1 porsi mie koclok telur tanpa lontong Total spent: ???
Mie koclok adalah mi berkuah santan kental yang disajikan dengan suwiran ayam, telur rebus, tauge, kucai, dan bawang goreng. Kuahnya yang putih dan pekat terasa lembut di mulut, dan mi serta isiannya memperlihatkan jejak dapur Tionghoa yang berpadu dengan santan khas Jawa. Namanya berasal dari kata "koclok", yaitu cara mi dikocok atau diguncang dalam serokan saat direbus sebelum disiram kuah. Pak Rasita di Gombang, Plumbon, sudah berjualan mie koclok sejak 1979, dan di menunya pembeli bisa memilih mi saja atau ditambah lontong dan telur.
Personal notes: AKU SUKA BANGET MIE KOCLOKKKK WOWWWWW kata Ci Titin sajiannya mirip-mirip carbonara. Sebenernya aku bisa merasa kemiripan itu mungkin karena sausnya putih, agak gurih, terusnya mie nya mie gandum (sotoynya aku). Menurutku kalo makan mie ya mie aja, nasi ya nasi aja, jadi kemarin cobain mie koclok telur, dan menyenangkan banget. “Kuah”nya lebih kayak saus karena kental, terus mungkin lidahku rusak tapi aku gak ngerasa kalau kuahnya “santan” banget, lebih ke gurih kental aja. Ditaburi bubuk cabai merah semakin enak banget.
13. Nasi Lengko Haji Barno
Jl. Pagongan No. 15B Ordered: Nasi lengko 1 1/2 porsi, 10 tusuk sate kambing muda Total cost: 125K
Haji Barno adalah satu lagi warung nasi lengko di kawasan Pagongan, tidak jauh dari H.M. Sadi, yang menunjukkan betapa lekatnya hidangan ini dengan kawasan tersebut. Mencicipi dua warung lengko dalam satu perjalanan jadi cara menarik untuk melihat bagaimana racikan bumbu kacang tiap keluarga bisa berbeda.
Personal notes: Kata Ci Titin memang nasi lengko dan nasi langgi dan lengko akan berbeda-beda rasanya di setiap tempat. Ini masuk akal bagiku karena sebenarnya ya masakan-masakan ini mungkin bisa dibilang masakan rumahan yang kemudian dijual untuk umum, tanpa ada badan besar yang memasang aturan atau definisi hidangan tersebut. Beda, mungkin yah, sama croissant, pate a choux, French onion soup, etc?
Nasi Lengko Haji Barno disajikan dengan lebih banyak saus kacang agak pedas, dan aku bukan pecinta saus kacang, jadi bagiku bahan-bahan nasinya sedikit overpowered oleh kacangnya. Bukan berarti gak enak; buktinya tetap habis semua. Tapi bukan seleraku aja.
14. Pizza Season at Smalldose Coffee
Jl. Sukasari No. 11, Kejaksan (pizza weekends only) Ordered: ragu de manzo family size (medium) Total spent: 85K Smalldose adalah roastery kopi spesialti di Kota Cirebon yang fokus pada manual brew, dan Pizza Season membuka pizza sourdough di sana setiap akhir pekan. Kalau gak salah brandnya dijalankan oleh adeknya Mas Reza.
Personal notes: Lucu, ternyata ada sourdough pizza di Cirebon. Tekstur pizza bread seperti beneran sourdough, aka a leaner dough, not as soft as an enriched pizza — it reminded me of the water-flour boules that I tried making a few months ago. Enak, apalagi ditaburi saus “tabasco” yang juga homemade.